Beranda > Arsitekturia, Artikel > Arsitektur Minimalis

Arsitektur Minimalis

…Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan sebuah project rumah tinggal dari Bpk. A (…sebut saja demikian). Konsep dari project desain ini adalah sebuah bangunan rumah tinggal dengan gaya minimalis. Sebenarnya Arsitektur gaya minimalis di daerah saya bukanlah hal baru, seiring dengan pesatnya perkembangan informasi. Bangunan-bangunan lama sudah “tergusur” dengan bangunan-bangunan modern yang katanya lebih mencirikan gaya hidup pemiliknya. Saya juga tidak terlalu mengerti apakah ini sebuah perkembangan atau pergesaran nilai-nilai budaya, tapi itulah arsitektur tetap memiliki ruang dimana pun berada. Ok…lanjut curhatnya (hehehehe…), awalnya sempat bingung karena kekurangan literatur dan memang belum berpengalaman mendesain rumah minimalis. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa ini merupakan tantangan dan juga jawaban atas disiplin ilmu yang selama ini saya banggakan di kampus saya tercinta…akhirnya saya terima tantangan beliau dengan sikap proffesionalisme (..hA..hA..hA..hA..). Mengutip satu kalimat dari seorang figur yang sangat saya hormati:
.melaju sajalah…sedikit cedera kadang diperlukan untuk kembalikan kita ke jalur yang benar….
…well, begitulah kira-kira. Tanpa adanya sebuah eksperimen, mana mungkin ada penemuan-penemuan. Akhirnya project tersebut berjalan mulus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan!. Hasilnya bisa dilihat di Galeri artSpace Studio dengan tag “Borobudur Home”.
Sepenggal cerita tentang arsitektur gaya minimalis.
Arsitektur gaya minimalis yang kini tengah marak sebenarnya bukan bentuk arsitektur baru. Sejak awal tahun 1920-an sampai bersinar kembali pada tahun 1990-an, telah hadir dengan faktor pemicu interpretasi dan aplikasi “simplicity” yang khas dari satu arsitek dengan arsitek lainnya.  Sebenarnya, Le Corbusier dan Ludwig Mies Van Der Rohe adalah dua dari sekian banyak arsitek yang memberi pengaruh warna kesederhanaan (simplicity) yang signifikan dalam dinamika arsitektur minimalis sejak dulu hingga kini. Kritikus seni Juan Carlos Rego dalam buku Minimalism: Design Source (page one, Singapore,2004) mengungkapkan, minimalis merupakan pendekatan estetika yang mencerminkan kesederhanaan. Fenomena ini tumbuh di berbagai bidang, seperti seni lukis, patung, interior, arsitektur, mode dan musik. Akan tetapi, awal pertumbuhan dan faktor pemicu tumbuhnya diberbagai bidang bersifat khas dan tidak dapat digeneralisasi.
Minimalis dalam arsitektur menerapkan hal-hal yang bersifat essensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Mengacu pada pendapat Carlos Rego itu, dapat dikatakan arsitektur minimalis mulai tumbuh pada awal abad ke-20 yang dikenal sebagai abad modern, abad yang diramaikan berbagai kemajuan sebagai dampak dari revolusi industri. Inovasi berbagai material bangunan seperti baja, beton dan kaca, standarisasi dan efesiensi memberi tantangan baru dalam dunia rancang bangun. Beragam pemikiran dikemukakan arsitek di daratan Eropa dan Amerika. Pada saat itu mereka tengah berusaha mencari format arsitektur baru yang mencerminkan semangat zaman dengan mencoba meninggalkan pengaruh arsitektur klasik. Ada juga yang mengeksplorasi bentuk geometri murni dan anti dekorasi, seperti terlihat pada karya Le Corbusier (Charles Edouard Jeanneret) pada tahun 1920-an.
Ada juga yang mengeksplorasi integrasi kemajuan industri, teknologi dalam arsitektur, dan antidekorasi, seperti terlihat pada karya Ludwig Mies van der Rohe. Dua kelompok terakhir yang menyiratkan bentuk elementer, fungsional, dan antidekorasi ini dapat disebut sebagai arsitektur minimalis.
Seiring dengan perjalanan waktu, pengintegrasian kemajuan industri dan teknologi dalam arsitektur mendominasi arah perkembangan arsitektur. Kehadirannya yang terasa di berbagai belahan dunia membuatnya dijuluki sebagai International Style. Akan tetapi, lama-kelamaan masyarakat menjadi jenuh dengan gaya yang seragam. Bentuk dan pemikiran baru dalam arsitektur pun kembali digali. Pada akhir 1970-an mulai muncul arsitektur Postmodern sebagai reaksi atas keseragaman International Style. Postmodern membuka peluang terhadap bentuk, ornamen arsitektur klasik menjadi bentuk yang imajinatif. Pada tahun 1980-an muncul arsitektur Dekonstruksi yang ”seolah-olah” mendobrak kesatuan dan harmoni salah satu pakem komposisi sebuah desain.
Lagi-lagi, orang menjadi jenuh dengan arsitektur Postmodern dan Dekonstruksi. Kedua tren yang mengolah sudut tegas bentuk geometris menjadi sesuatu yang lebih kompleks ini mendorong orang kembali kepada sesuatu yang esensial, arsitektur yang mengandalkan bentuk geometris murni, elementer, sudut tegas dalam nuansa warna netral atau putih.
Tahun 1990-an oleh Kliczkowski dianggap sebagai titik balik bersinarnya kembali arsitektur minimalis, seperti yang diungkapkan dalam bukunya, Maximalism Maximalismo (Loft Publication, Spain, 2003).
Le Corbusier dan Van der Rohe
Kehadiran kembali arsitektur minimalis saat ini maupun keberadaannya pada masa lampau tidak terlepas dari pengaruh Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe.
Ungkapan Mies van der Rohe ”Less is more” (1923) yang sangat terkenal dianggap sebagai penanda keberadaan arsitektur minimalis hingga saat ini.
Farnsworth House, rumah peristirahatan milik Edith Farnsworth, Fox River, Illinois (1949-1951), dan Seagram Building merupakan contoh aplikasi ungkapan Van der Rohe. Kemewahan tumbuh dari kesederhanaan tatanan ruang dalam open plan dan keapikan dari susunan detail struktur dan arsitektur. Penyelesaian secara struktural dan arsitektural kolom baja, balok baja, pelat datar, dan dinding masif, transparan pada bangunan itu sendirilah yang menjadi ”dekorasi”.
Purisme merupakan pemikiran Le Corbusier yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk murni seperti bola, kubus, dan piramida mempunyai hukum estetika yang abadi (1920-an). Villa Savoye di Poissy merupakan salah satu refleksinya.
Secara visual, vila ini terbentuk dari komposisi bentuk geometris. Tidak terdapat unsur dekoratif. Bagi Corbusier, dekorasi hanyalah taktik untuk menyembunyikan kesalahan pembangunan.
Selain komposisi bentuk geometri yang menjadi ciri karyanya, Corbusier menampilkan elemen unik, yaitu penggunaan ramp sebagai pengganti tangga atau jembatan. Sesuatu yang belum lazim saat itu, tetapi saat ini menjadi elemen arsitektur yang memberi warna tersendiri bagi arsitektur gaya minimalis.

…Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan sebuah project rumah tinggal dari Bpk. A (…sebut saja demikian). Konsep dari project desain ini adalah sebuah bangunan rumah tinggal dengan gaya minimalis. Sebenarnya Arsitektur gaya minimalis di daerah saya bukanlah hal baru, seiring dengan pesatnya perkembangan informasi. Bangunan-bangunan lama sudah “tergusur” dengan bangunan-bangunan modern yang katanya lebih mencirikan gaya hidup pemiliknya. Saya juga tidak terlalu mengerti apakah ini sebuah perkembangan atau pergesaran nilai-nilai budaya, tapi itulah arsitektur tetap memiliki ruang dimana pun berada. Ok…lanjut curhatnya (hehehehe…), awalnya sempat bingung karena kekurangan literatur dan memang belum berpengalaman mendesain rumah minimalis. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa ini merupakan tantangan dan juga jawaban atas disiplin ilmu yang selama ini saya banggakan di kampus saya tercinta…akhirnya saya terima tantangan beliau dengan sikap proffesionalisme (..hA..hA..hA..hA..). Mengutip satu kalimat dari seorang figur yang sangat saya hormati:.melaju sajalah…sedikit cedera kadang diperlukan untuk kembalikan kita ke jalur yang benar….…well, begitulah kira-kira. Tanpa adanya sebuah eksperimen, mana mungkin ada penemuan-penemuan. Akhirnya project tersebut berjalan mulus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan!. Hasilnya bisa dilihat di Galeri artSpace Studio dengan tag “Borobudur Home”.Sepenggal cerita tentang arsitektur gaya minimalis.Arsitektur gaya minimalis yang kini tengah marak sebenarnya bukan bentuk arsitektur baru. Sejak awal tahun 1920-an sampai bersinar kembali pada tahun 1990-an, telah hadir dengan faktor pemicu interpretasi dan aplikasi “simplicity” yang khas dari satu arsitek dengan arsitek lainnya.  Sebenarnya, Le Corbusier dan Ludwig Mies Van Der Rohe adalah dua dari sekian banyak arsitek yang memberi pengaruh warna kesederhanaan (simplicity) yang signifikan dalam dinamika arsitektur minimalis sejak dulu hingga kini. Kritikus seni Juan Carlos Rego dalam buku Minimalism: Design Source (page one, Singapore,2004) mengungkapkan, minimalis merupakan pendekatan estetika yang mencerminkan kesederhanaan. Fenomena ini tumbuh di berbagai bidang, seperti seni lukis, patung, interior, arsitektur, mode dan musik. Akan tetapi, awal pertumbuhan dan faktor pemicu tumbuhnya diberbagai bidang bersifat khas dan tidak dapat digeneralisasi.Minimalis dalam arsitektur menerapkan hal-hal yang bersifat essensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Mengacu pada pendapat Carlos Rego itu, dapat dikatakan arsitektur minimalis mulai tumbuh pada awal abad ke-20 yang dikenal sebagai abad modern, abad yang diramaikan berbagai kemajuan sebagai dampak dari revolusi industri. Inovasi berbagai material bangunan seperti baja, beton dan kaca, standarisasi dan efesiensi memberi tantangan baru dalam dunia rancang bangun. Beragam pemikiran dikemukakan arsitek di daratan Eropa dan Amerika. Pada saat itu mereka tengah berusaha mencari format arsitektur baru yang mencerminkan semangat zaman dengan mencoba meninggalkan pengaruh arsitektur klasik. Ada juga yang mengeksplorasi bentuk geometri murni dan anti dekorasi, seperti terlihat pada karya Le Corbusier (Charles Edouard Jeanneret) pada tahun 1920-an.Ada juga yang mengeksplorasi integrasi kemajuan industri, teknologi dalam arsitektur, dan antidekorasi, seperti terlihat pada karya Ludwig Mies van der Rohe. Dua kelompok terakhir yang menyiratkan bentuk elementer, fungsional, dan antidekorasi ini dapat disebut sebagai arsitektur minimalis.Seiring dengan perjalanan waktu, pengintegrasian kemajuan industri dan teknologi dalam arsitektur mendominasi arah perkembangan arsitektur. Kehadirannya yang terasa di berbagai belahan dunia membuatnya dijuluki sebagai International Style. Akan tetapi, lama-kelamaan masyarakat menjadi jenuh dengan gaya yang seragam. Bentuk dan pemikiran baru dalam arsitektur pun kembali digali. Pada akhir 1970-an mulai muncul arsitektur Postmodern sebagai reaksi atas keseragaman International Style. Postmodern membuka peluang terhadap bentuk, ornamen arsitektur klasik menjadi bentuk yang imajinatif. Pada tahun 1980-an muncul arsitektur Dekonstruksi yang ”seolah-olah” mendobrak kesatuan dan harmoni salah satu pakem komposisi sebuah desain.Lagi-lagi, orang menjadi jenuh dengan arsitektur Postmodern dan Dekonstruksi. Kedua tren yang mengolah sudut tegas bentuk geometris menjadi sesuatu yang lebih kompleks ini mendorong orang kembali kepada sesuatu yang esensial, arsitektur yang mengandalkan bentuk geometris murni, elementer, sudut tegas dalam nuansa warna netral atau putih.Tahun 1990-an oleh Kliczkowski dianggap sebagai titik balik bersinarnya kembali arsitektur minimalis, seperti yang diungkapkan dalam bukunya, Maximalism Maximalismo (Loft Publication, Spain, 2003).Le Corbusier dan Van der RoheKehadiran kembali arsitektur minimalis saat ini maupun keberadaannya pada masa lampau tidak terlepas dari pengaruh Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe.Ungkapan Mies van der Rohe ”Less is more” (1923) yang sangat terkenal dianggap sebagai penanda keberadaan arsitektur minimalis hingga saat ini.Farnsworth House, rumah peristirahatan milik Edith Farnsworth, Fox River, Illinois (1949-1951), dan Seagram Building merupakan contoh aplikasi ungkapan Van der Rohe. Kemewahan tumbuh dari kesederhanaan tatanan ruang dalam open plan dan keapikan dari susunan detail struktur dan arsitektur. Penyelesaian secara struktural dan arsitektural kolom baja, balok baja, pelat datar, dan dinding masif, transparan pada bangunan itu sendirilah yang menjadi ”dekorasi”.Purisme merupakan pemikiran Le Corbusier yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk murni seperti bola, kubus, dan piramida mempunyai hukum estetika yang abadi (1920-an). Villa Savoye di Poissy merupakan salah satu refleksinya.Secara visual, vila ini terbentuk dari komposisi bentuk geometris. Tidak terdapat unsur dekoratif. Bagi Corbusier, dekorasi hanyalah taktik untuk menyembunyikan kesalahan pembangunan.Selain komposisi bentuk geometri yang menjadi ciri karyanya, Corbusier menampilkan elemen unik, yaitu penggunaan ramp sebagai pengganti tangga atau jembatan. Sesuatu yang belum lazim saat itu, tetapi saat ini menjadi elemen arsitektur yang memberi warna tersendiri bagi arsitektur gaya minimalis.

  1. Belum ada komentar.
  1. April 28, 2011 pukul 5:31 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s